Pekerja melewati tiang-tiang pancang dalam proyek perbaikan Jalan RE
Martadinata, Jakarta Utara, Sabtu (16/10/2010). Diperkirakan, perbaikan
akan memakan waktu dua hingga tiga bulan ke depan.
JAKARTA, - "Hujan dan panas ini sudah biasa. Kalau ini semua demi perut anak istri, saya rela tidak pulang ke rumah."
Ungkapan
ini meluncur dari bibir dari Kris Sula (42) seorang buruh di sebuah
proyek jalan tol di Jakarta. Hujan turun dengan deras ketika Kris tengah
berbagi kisahnya sebagai buruh proyek pada
Kompas.com, Senin (30/4/2012).
Saat
itu, tepat pukul 17.00 Wib sore, adalah waktunya Kris bersama
teman-temannya beristirahat sejenak dan berteduh dari hujan di sebuah
gubuk yang dibuat dari seng-seng bekas. Mereka tampak lelah setelah
bekerja dari pukul 05.00 pagi. Kalau lembur, mereka bisa bekerja hingga
pukul 22.00 Wib.
Saat perbincangan dengan Kris berlangsung, ada
beberapa buruh sedang tidur di atas tumpukan sak semen sambil menunggu
hujan reda. Tak ada selimut hangat di situ. Mereka hanya dibalut baju
lusuh dan kotor, celana yang basah terkena lumpur, serta sandal jepit
atau sepatu
boot butut. Buruh lainnya meringkuk sambil berbagi satu bungkus rokok kretek seharga Rp 8000an.
Mereka
menyimak cerita Kris sambil sesekali tertawa, karena memiliki nasib dan
cerita yang hampir serupa. "Kami semua datang dari Demak, Jawa Tengah.
Niatnya cuma satu ke sini cari uang untuk anak istri," tutur Kris.
Pria
yang hanya tamat SLTP ini menjadi buruh bangunan sejak 14 tahun lalu.
Tahun 1998, ia menginjakkan kaki di Jakarta. Debu dan alat berat proyek
sudah menjadi pemandangan sehari-harinya.
Demi mencari nafkah,
Kris meninggalkan istri dan anak perempuannya yang kini duduk di kelas
dua SMP. Ia pulang kampung dua bulan sekali. Untuk menghemat biaya, ia
sering menumpang truk proyek yang menuju ke wilayah Jawa Tengah. "Kalau
ada duit baru pulang. Kalau
enggak ya cari sampai dapat," kata dia sambil menyeruput segelas kopi hitam.
Selama
bekerja, Kris mengaku upahnya tak tentu, tergantung tugas yang
diberikan padanya. Ia pernah hanya mendapat upah Rp 25 ribu per hari
sebagai pemikul semen dari truk menuju ke tempat proyek. Jangankan
untuk dikirim ke kampung halaman, upah minim itu pun tak cukup untuk
biaya hidupnya selama merantau.
Saat mendapat upah kecil, Kris
hanya makan satu atau dua kali sehari. Saat sarapan, ia mengisi perut
dengan segelas kopi atau teh panas. Siang dan malam baru ia makan dengan
porsi nasi lebih banyak, agar lebih kenyang. Lauk ikan asin, atau tempe
tahu tak jadi soal baginya, yang penting perutnya terisi.
"Kadang-kadang
upahnya juga telat dibagikan. Jadi saya sama teman-teman nunggu. Kalau
lama, ya mogok kerja satu-dua hari biar cepat dikasih upah kami," ujar
Kris sambil tertawa kecil.
Saat ini pun upahnya masih tak tentu
karena ia berpindah dari satu proyek ke proyek lain. Jika beruntung,
Kris bisa mendapat upah berkisar Rp 1,5 juta hingga 2,5 juta per bulan.
Apabila tawaran proyek kecil, maka upahnya tak sampai angka Rp 1 juta.
Untungnya,
pada proyek pembangunan jalan tol ini, Kris dan teman-temannya cukup
diperhatikan oleh mandornya. Meski kadang upah telat diberikan, hak
mereka sehari-hari dapat terpenuhi. Mereka dipersilakan makan tiga kali
sehari di sebuah warung makan kecil dekat dengan tempat proyek. Waktunya
shalat tiba, Kris dan buruh lain juga diperkenankan melaksanakan shalat
terlebih dahulu. Mereka juga disediakan sebuah mess kecil untuk tidur
beramai-ramai melepas lelah.
Tak hanya itu, ada jaminan
keselamatan kerja dan uang kesehatan jika mereka sakit. "Ini mandornya
yang bawa kami ke sini asalnya dari Demak juga, makanya baik sama kami.
Kalau sekarang upah kami Rp 2 juta. Beruntunglah kami untuk proyek yang
ini," katanya tersenyum.
Kris bahagia dengan upahnya itu. Sebagian
besar ia kirim untuk sekolah anaknya. Kris berharap akan ada
proyek-proyek besar lainnya, sehingga ia bisa mendapat upah lebih besar
lagi.
Saat ditanya harapannya di Hari Buruh Internasional yang
jatuh pada hari ini, Selasa (1/5/2012), Kris justru tertawa. Ucapannya
tak muluk-muluk. Sambil malu-malu ia menyatakan hanya berharap
pemerintah memperhatikan rakyat kecil serta membuka lapangan kerja lebih
banyak dan layak untuk masyarakat.
Kris mengaku tak ikut dalam
demo buruh hari ini dan hanya mendukung lewat doa agar teman-temannya
sesama buruh bisa menyuarakan hak-hak mereka kepada pemerintah. "Kami
wong cilik, hanya berharap negara ini adil juga untuk kami," katanya.
Mimpi
kecil pun terselip di balik kerja keras buruh proyek ini. Kris ingin
suatu saat nanti berhenti menjadi buruh, mengumpulkan uang untuk modal
membeli tanah dan bertani, dan kembali ke kampung halaman bersama
keluarganya.