Kamis, 03 Mei 2012

Berangkat Kerja, Mutarman Tewas Dihajar Truk
 
 ILUSTRASI
JAKARTA- Mutarman (39) tewas seketika, saat sepeda motor yang dikendarainya menghajar truk. Ketika itu korban akan berangkat untuk bekerja di Jalan Pahlawan Komarudin, Jakarta Timur, Kamis (3/5/2012).

Korban yang diketahui bernama Mutarman (39) melaju kencang dari arah Walikota Jakarta Timur menuju Jalan Bekasi Raya, Jakarta Timur, menggunakan sepeda motor jenis maticnya.

"Korban diketahui sebagai warga Warakas, Jakarta Utara ini tak dapat menghindari truk yang datang dari arah berlawanan saat melaju kencang, sampai akhirnya helm yang digunakan korban pun pecah," ujar Kasi Humas Polsektro Cakung, Aipda Sutrisn, Kamis (3/5/2012).

Kecelakaan maut yang terjadi sekitar pukul 07.30 WIB ini membuat korban tewas seketika di tempat kejadian. Kuatnya benturan hingga membuat helm korban pecah diduga menjadi penyebab kematiannya.

Petugas kepolisian yang datang ke lokasi kejadian langsung mengevakuasi korban dan dibawa ke RSCM guna keperluan otopsi.

Rabu, 02 Mei 2012

Foke: DKI Akan Tambah Dua Tempat Distribusi Darah
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo 
JAKARTA - Terkait lamban dan minimnya distribusi darah di Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menyatakan akan menambah dua tempat distribusi darah di wilayah Jakarta. Sehingga kebutuhan darah dapat segera tersalurkan dengan cepat pada yang membutuhkan.
"Saat ini kan hanya ada satu di Kramat. Nanti akan ditambah dua lagi. Jadi tidak semuanya terpusat di Kramat saja," kata Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo, saat acara Give Blood Save Lives di Senayan City, Jakarta, Rabu (2/5/2012).
Dua tempat distribusi tersebut, lanjutnya, akan didirikan di Jakarta Barat dan Jakarta Selatan. Tempat yang berada di Jakarta Barat nantinya akan ditargetkan untuk memasok daerah Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Sementara tempat di Jakarta Selatan, untuk memasok wilayah Jakarta Selatan dan sebagian wilayah Jakarta Timur.
"Kami terus mendukung PMI karena ini penting untuk masyarakat banyak. Karena itu, fasilitas tempat distribusi darah memang harus ditambah," kata Foke.
Ketua Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla, mengatakan, tempat distribusi di Jakarta ini memang sangat mendesak. Mengingat pentingnya kebutuhan darah untuk kehidupan manusia.
"Tanpa donor darah tidak ada kehidupan. Seandainya ada pabrik darah yang bisa produksi darah, ya sudah selesai itu donor dan distribusi darah," ujar Jusuf.
Ia juga menjelaskan, kebutuhan darah di Jakarta dua kali lipat lebih banyak daripada daerah lain. Hal ini disebabkan banyaknya penduduk luar kota yang berobat di Jakarta dan tingginya angka kendaraan yang berakibat pada tingginya angka kecelakaan.
Namun, terkadang distribusi darah ini lamban karena jarak rumah sakit dengan tempat distribusi darah di Kramat terlampau jauh. Tidak hanya itu, kemacetan yang terjadi Jakarta juga menyebabkan darah tersebut lama sampainya ke rumah sakit.
"Kadang karena terlalu jauh, darah baru sampai di rumah sakit sampai tiga atau empat jam. Padahal sudah sangat dibutuhkan. Karena itu, dua tempat tambahan ini benar harus dibuka dan Gubernur sudah setuju akan hal ini," kata Kalla.

Selasa, 01 Mei 2012

Hujan dan Panas, Demi Anak Saya Rela
 Pekerja melewati tiang-tiang pancang dalam proyek perbaikan Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara, Sabtu (16/10/2010). Diperkirakan, perbaikan akan memakan waktu dua hingga tiga bulan ke depan.
JAKARTA,  - "Hujan dan panas ini sudah biasa. Kalau ini semua demi perut anak istri, saya rela tidak pulang ke rumah."
Ungkapan ini meluncur dari bibir dari Kris Sula (42) seorang buruh di sebuah proyek jalan tol di Jakarta. Hujan turun dengan deras ketika Kris tengah berbagi kisahnya sebagai buruh proyek pada Kompas.com, Senin (30/4/2012).
Saat itu, tepat pukul 17.00 Wib sore, adalah waktunya Kris bersama teman-temannya beristirahat sejenak dan berteduh dari hujan di sebuah gubuk yang dibuat dari seng-seng bekas. Mereka tampak lelah setelah bekerja dari pukul 05.00 pagi. Kalau lembur, mereka bisa bekerja hingga pukul 22.00 Wib.
Saat perbincangan dengan Kris berlangsung, ada beberapa buruh sedang tidur di atas tumpukan sak semen sambil menunggu hujan reda. Tak ada selimut hangat di situ. Mereka hanya dibalut baju lusuh dan kotor, celana yang basah terkena lumpur, serta sandal jepit atau sepatu boot butut. Buruh lainnya meringkuk sambil berbagi satu bungkus rokok kretek seharga Rp 8000an.
Mereka menyimak cerita Kris sambil sesekali tertawa, karena memiliki nasib dan cerita yang hampir serupa. "Kami semua datang dari Demak, Jawa Tengah. Niatnya cuma satu ke sini cari uang untuk anak istri," tutur Kris.
Pria yang hanya tamat SLTP ini menjadi buruh bangunan sejak 14 tahun lalu. Tahun 1998, ia menginjakkan kaki di Jakarta. Debu dan alat berat proyek sudah menjadi pemandangan sehari-harinya.
Demi mencari nafkah, Kris meninggalkan istri dan anak perempuannya yang kini duduk di kelas dua SMP. Ia pulang kampung dua bulan sekali. Untuk menghemat biaya, ia sering menumpang truk proyek yang menuju ke wilayah Jawa Tengah. "Kalau ada duit baru pulang. Kalau enggak ya cari sampai dapat," kata dia sambil menyeruput segelas kopi hitam.
Selama bekerja, Kris mengaku upahnya tak tentu, tergantung tugas yang diberikan padanya. Ia pernah hanya mendapat upah Rp 25 ribu per hari sebagai pemikul semen dari truk menuju ke tempat proyek. Jangankan untuk dikirim ke kampung halaman, upah minim itu pun tak cukup untuk biaya hidupnya selama merantau.
Saat mendapat upah kecil, Kris hanya makan satu atau dua kali sehari. Saat sarapan, ia mengisi perut dengan segelas kopi atau teh panas. Siang dan malam baru ia makan dengan porsi nasi lebih banyak, agar lebih kenyang. Lauk ikan asin, atau tempe tahu tak jadi soal baginya, yang penting perutnya terisi.
"Kadang-kadang upahnya juga telat dibagikan. Jadi saya sama teman-teman nunggu. Kalau lama, ya mogok kerja satu-dua hari biar cepat dikasih upah kami," ujar Kris sambil tertawa kecil.
Saat ini pun upahnya masih tak tentu karena ia berpindah dari satu proyek ke proyek lain. Jika beruntung, Kris bisa mendapat upah berkisar Rp 1,5 juta hingga 2,5 juta per bulan. Apabila tawaran proyek kecil, maka upahnya tak sampai angka Rp 1 juta.
Untungnya, pada proyek pembangunan jalan tol ini, Kris dan teman-temannya cukup diperhatikan oleh mandornya. Meski kadang upah telat diberikan, hak mereka sehari-hari dapat terpenuhi. Mereka dipersilakan makan tiga kali sehari di sebuah warung makan kecil dekat dengan tempat proyek. Waktunya shalat tiba, Kris dan buruh lain juga diperkenankan melaksanakan shalat terlebih dahulu. Mereka juga disediakan sebuah mess kecil untuk tidur beramai-ramai melepas lelah.
Tak hanya itu, ada jaminan keselamatan kerja dan uang kesehatan jika mereka sakit. "Ini mandornya yang bawa kami ke sini asalnya dari Demak juga, makanya baik sama kami. Kalau sekarang upah kami Rp 2 juta. Beruntunglah kami untuk proyek yang ini," katanya tersenyum.
Kris bahagia dengan upahnya itu. Sebagian besar ia kirim untuk sekolah anaknya. Kris berharap akan ada proyek-proyek besar lainnya, sehingga ia bisa mendapat upah lebih besar lagi.
Saat ditanya harapannya di Hari Buruh Internasional yang jatuh pada hari ini, Selasa (1/5/2012), Kris justru tertawa. Ucapannya tak muluk-muluk. Sambil malu-malu ia menyatakan hanya berharap pemerintah memperhatikan rakyat kecil serta membuka lapangan kerja lebih banyak dan layak untuk masyarakat.
Kris mengaku tak ikut dalam demo buruh hari ini dan hanya mendukung lewat doa agar teman-temannya sesama buruh bisa menyuarakan hak-hak mereka kepada pemerintah. "Kami wong cilik, hanya berharap negara ini adil juga untuk kami," katanya.
Mimpi kecil pun terselip di balik kerja keras buruh proyek ini. Kris ingin suatu saat nanti berhenti menjadi buruh, mengumpulkan uang untuk modal membeli tanah dan bertani, dan kembali ke kampung halaman bersama keluarganya.

Senin, 30 April 2012

Foke : Unjuk Rasa, Jangan Rusak Fasilitas Umum
 Menjelang Hari Buruh pada 1 Mei, para buruh dari sejumlah wilayah di Jakarta dan sekitarnya menggelar jalan sehat di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Minggu (29/4/2012). Aksi tersebut merupakan pemanasan untuk aksi yang lebih besar pada Selasa. Salah satu isu yang disuarakan adalah penghapusan sistem kerja waktu tertentu (outsourcing).

JAKARTA, MEDIA INFORMASI - Menyambut Hari Buruh Internasional atau May Day pada Selasa (1/5/2012), Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengungkapkan bahwa dirinya tidak melarang adanya aksi unjuk rasa esok hari. Mengingat unjuk rasa merupakan salah satu sarana untuk menyampaikan aspirasinya.
"Unjuk rasa itu sah saja selama tidak rusuh, tidak anarkis, dan tidak merusak fasos fasum (fasilitas sosial dan fasilitas umum)," kata Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo, di Balai Kota, Jakarta, Senin (30/4/2012).
"Fasos fasum ini dibuat dengan uang rakyat juga. Jadi jangan dirusak apalagi sampai merugikan orang lain," kata Foke.
Untuk tetap menjaga keamanan dan kenyamanan, dia mengaku telah melakukan kontak eksklusif secara rutin dengan Kapolda dan Wakapolda. Tidak hanya itu, dia juga menginstruksikan pada Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk ikut turun menjaga keamanan esok hari.
"Saya sudah berkoordinasi dengan Kapolda dan Wakapolda untuk melakukan imbauan yang sama agar tidak ada unjuk rasa yang anarkis," kata Foke.
Selanjutnya, dia juga telah menghubungi kantong-kantong buruh di Jakarta terkait aksi unjuk rasa pada hari buruh besok. Para buruh ini, katanya, hanya akan mengirimkan perwakilan buruh mengingat para komunitas buruh ini juga akan menggelar acara di tempatnya masing-masing.
"Yang terpenting harus meningkatkan kewaspadaan agar tidak ada tindakan yang anarkis," kata Foke.

Kamis, 26 April 2012

Sidang Kasus Raafi Akan Hadirkan Saksi Utama
 Raafi Aga Winasya Benyamin
JAKARTA - Sidang kasus pembunuhan Raafi Aga Winasya Benjamin (17) akan kembali digelar Pengadilan Negeri Jakarta Selatan hari ini, Kamis (26/4/2012). Sidang yang sudah berjalan lebih dari empat pekan ini sudah memasuki tahap mendengarkan keterangan saksi.
Jaksa penuntut umum (JPU) Dedy Sukarno seusai sidang terakhir, Senin (23/4/2012) menyebutkan pada tahap awal pihaknya akan mengupayakan hadirnya empat saksi utama dari sekitar 20-an saksi yang akan dihadirkan.
"Ada Eko, polisi yang pertama kali tiba di TKP, ibu Raafi, dan dua temannya dari Panggudi Luhur yang menjadi korban," ungkap Dedy.
Kedua siswa SMU PL yang menjadi korban cedera, masing-masing Gian Yoshua Valderama dan Muhammad Kamal Hafiz. Keduanya ikut menjadi korban pengeroyokan di Shy Roof Top, Kemang, Jakarta Selatan, pada malam terbunuhnya Raafi, Sabtu, 5 November tahun lalu.
Endy Martono, kuasa hukum terdakwa Sher Muhammad Febri Awan (42), belum berhasil dihubungi untuk memastikan kesiapan terdakwa.

Rabu, 25 April 2012

Puluhan Ribu Polisi dan Satpol Disiagakan Saat May Day
Punakawan membuka jalan bagi para buruh yang memperingati Hari Buruh Internasional Minggu, 1 Mei 2011, di Jalan Pahlawan, Semarang.
JAKARTA — Untuk menjaga stabilitas keamanan Ibu Kota saat Hari Buruh Internasional yang jatuh pada tanggal 1 Mei nanti, puluhan ribu aparat polisi dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) diturunkan.
Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Fadjar Panjaitan mengatakan, biasanya perayaan May Day atau Hari Buruh Internasional di Jakarta sering dilakukan di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur. Untuk itu, 530 personel Satpol PP akan disiagakan.
"Permintaan buruh, bisa dilakukan dalam forum melalui orasi. Harapannya, buruh yang ada di Jakarta merayakan Hari Buruh ini dengan sukacita," kata Fadjar, di Balaikota, Jakarta, Rabu (25/4/2012).
Polda Metro Jaya menyiapkan 16.167 personel untuk menjaga keamanan saat Hari Buruh Internasional ini, mengingat jumlah massa yang akan turun ke jalan diprediksi mencapai 60.000 orang.
Kepala Biro Operasional Polda Metro Jaya Kombes Agus Budi mengungkapkan, sampai saat ini belum ada dari forum buruh yang mengajukan izin untuk melakukan aksi unjuk rasa. Meski begitu, pihaknya tetap akan siaga menjaga beberapa obyek vital di Ibu Kota, seperti Istana Negara dan Gedung DPR/MPR RI.
"Polda siap mengamankan Hari Buruh Internasional. Nantinya dalam pelaksanaan akan dibantu juga dari TNI dan Pemprov DKI Jakarta," kata Agus.
Umumnya para buruh ini akan berorasi di Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan dilanjutkan melakukan aksi longmarch ke Istana Negara dan kembali ke Gelora Bung Karno. "Titik akhir ada di Gelora Bung Karno karena akan ada hiburan di sana," jelas Agus.
Aksi massa yang diperkirakan akan diikuti oleh puluhan ribu buruh ini tentunya akan mengganggu arus lalu lintas di sekitar lokasi unjuk rasa. Untuk itu, pihaknya akan melakukan sosialisasi mengenai pengalihan arus. "Pengalihan lalin bersifat situasional, tapi kami tetap akan sosialisasikan ke masyarakat. Jadi, masyarakat sudah tahu lebih awal sehingga bisa mengambil jalan alternatif," tandasnya.

Selasa, 24 April 2012

Balada Balapan Liar dan Neotribalisme Modern di Jakarta
ILUSTRASI
JAKARTA - Sudah lewat tengah hari, Senin (23/4/2012), tetapi belum juga ada pelanggan datang ke bengkel khusus modifikasi mesin sepeda motor, di kawasan Koja, Jakarta Utara. Seorang pekerjanya, Eki (22), mengaku, sudah setengah bulan ini bengkel sepi pelanggan sejak serangan gerombolan bersepeda motor dengan pita kuning di Jalan Warakas I, Tanjung Priok, 13 April lalu.

Terlebih lagi setelah ditengarai serangan itu sebagai aksi balasan atas tewasnya Kelasi Satu Arifin Siri akibat dikeroyok di arena balapan liar, Kemayoran. Sasaran gerombolan itu remaja pesepeda motor.

”Sebelum ada penyerangan, setiap hari bengkel kami selalu ramai,” kata Eki.

Bengkel sepeda motor tempat Eki bekerja hanya berukuran 1,5 meter x 2 meter. Bengkel-bengkel khusus modifikasi mesin sepeda motor yang tersebar di kawasan Koja ini melayani modifikasi mesin untuk kepentingan balapan sepeda motor. Sebagian besar pemiliknya pun mantan pebalap motor, termasuk pemilik bengkel tempat Eki bekerja.

”Tapi kami hanya terima motor balapan resmi, tidak terima yang balapan liar,” ujar Eki membela diri.

Kalau sekadar nonton balapan liar di Kemayoran, Eki mengakui kerap dilakukan. Itu pun hanya untuk memperkaya pengetahuan memodifikasi mesin sepeda motor.

Eki mengaku, akibat aksi gerombolan motor berpita kuning itu, selain pelanggannya hilang, dia juga resah karena takut menjadi sasaran gerombolan itu.

Neotribalisme modern

Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B Prasodjo, menilai, perilaku kekerasan geng motor sangat primitif. Dia mengistilahkan perilaku mereka sebagai neotribalisme modern.

”Ikatan yang mereka bangun sangat emosional dengan solidaritas mekanis. Jika satu teman mereka diganggu, benar atau salah, mereka akan membelanya,” kata Imam.

Fenomena ini terjadi karena pembangunan kota yang tidak menyediakan ruang publik memadai. Seharusnya ruang publik tersebut dapat dipakai sebagai tempat penyaluran aktivitas mereka. Karena tidak ada, warga kota mencari ruang penyaluran, seperti yang dilakukan komunitas pesepeda motor.

Aktivitas komunitas ini dapat mengarah ke hal positif ataupun negatif. Namun, menurut Imam, banyak yang tidak memiliki visi aktivitas positif, seperti yang dilakukan geng motor.

Komunitas geng motor, menurut sejarawan Universitas Indonesia JJ Rizal, sudah ada di Jakarta sejak 1930-an. Gerakannya bergerombol dan mengumbar deru mesin motor yang terdengar meneror.

Untuk pertama kali gerombolan itu muncul di Semarang, Jawa Tengah, tahun 1908. Pemerintah Hindia Belanda memanfaatkan gerombolan ini untuk mengindentifikasi wilayah guna pembuatan peta.

Pada zaman Gubernur DKI Ali Sadikin, gerombolan sepeda motor juga diberikan tempat untuk balapan di Ancol. Balapan liar di Jakarta pun bisa berkurang. Hanya saja, saat itu balapan liar tetap terjadi di kawasan Monas, tetapi didominasi anak-anak aparat polisi dan TNI.

Dalam konteks saat ini, kata Rizal, balapan liar sepeda motor juga dipicu semakin mudahnya memperoleh kredit sepeda motor. Pada masa lalu, hanya kalangan menengah yang terlibat.

”Untuk mengatasinya, perlu didayagunakan dan diberikan arena agar tidak liar dan meresahkan,” jelas Rizal.