Senin, 30 April 2012

Foke : Unjuk Rasa, Jangan Rusak Fasilitas Umum
 Menjelang Hari Buruh pada 1 Mei, para buruh dari sejumlah wilayah di Jakarta dan sekitarnya menggelar jalan sehat di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Minggu (29/4/2012). Aksi tersebut merupakan pemanasan untuk aksi yang lebih besar pada Selasa. Salah satu isu yang disuarakan adalah penghapusan sistem kerja waktu tertentu (outsourcing).

JAKARTA, MEDIA INFORMASI - Menyambut Hari Buruh Internasional atau May Day pada Selasa (1/5/2012), Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengungkapkan bahwa dirinya tidak melarang adanya aksi unjuk rasa esok hari. Mengingat unjuk rasa merupakan salah satu sarana untuk menyampaikan aspirasinya.
"Unjuk rasa itu sah saja selama tidak rusuh, tidak anarkis, dan tidak merusak fasos fasum (fasilitas sosial dan fasilitas umum)," kata Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo, di Balai Kota, Jakarta, Senin (30/4/2012).
"Fasos fasum ini dibuat dengan uang rakyat juga. Jadi jangan dirusak apalagi sampai merugikan orang lain," kata Foke.
Untuk tetap menjaga keamanan dan kenyamanan, dia mengaku telah melakukan kontak eksklusif secara rutin dengan Kapolda dan Wakapolda. Tidak hanya itu, dia juga menginstruksikan pada Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk ikut turun menjaga keamanan esok hari.
"Saya sudah berkoordinasi dengan Kapolda dan Wakapolda untuk melakukan imbauan yang sama agar tidak ada unjuk rasa yang anarkis," kata Foke.
Selanjutnya, dia juga telah menghubungi kantong-kantong buruh di Jakarta terkait aksi unjuk rasa pada hari buruh besok. Para buruh ini, katanya, hanya akan mengirimkan perwakilan buruh mengingat para komunitas buruh ini juga akan menggelar acara di tempatnya masing-masing.
"Yang terpenting harus meningkatkan kewaspadaan agar tidak ada tindakan yang anarkis," kata Foke.

Kamis, 26 April 2012

Sidang Kasus Raafi Akan Hadirkan Saksi Utama
 Raafi Aga Winasya Benyamin
JAKARTA - Sidang kasus pembunuhan Raafi Aga Winasya Benjamin (17) akan kembali digelar Pengadilan Negeri Jakarta Selatan hari ini, Kamis (26/4/2012). Sidang yang sudah berjalan lebih dari empat pekan ini sudah memasuki tahap mendengarkan keterangan saksi.
Jaksa penuntut umum (JPU) Dedy Sukarno seusai sidang terakhir, Senin (23/4/2012) menyebutkan pada tahap awal pihaknya akan mengupayakan hadirnya empat saksi utama dari sekitar 20-an saksi yang akan dihadirkan.
"Ada Eko, polisi yang pertama kali tiba di TKP, ibu Raafi, dan dua temannya dari Panggudi Luhur yang menjadi korban," ungkap Dedy.
Kedua siswa SMU PL yang menjadi korban cedera, masing-masing Gian Yoshua Valderama dan Muhammad Kamal Hafiz. Keduanya ikut menjadi korban pengeroyokan di Shy Roof Top, Kemang, Jakarta Selatan, pada malam terbunuhnya Raafi, Sabtu, 5 November tahun lalu.
Endy Martono, kuasa hukum terdakwa Sher Muhammad Febri Awan (42), belum berhasil dihubungi untuk memastikan kesiapan terdakwa.

Rabu, 25 April 2012

Puluhan Ribu Polisi dan Satpol Disiagakan Saat May Day
Punakawan membuka jalan bagi para buruh yang memperingati Hari Buruh Internasional Minggu, 1 Mei 2011, di Jalan Pahlawan, Semarang.
JAKARTA — Untuk menjaga stabilitas keamanan Ibu Kota saat Hari Buruh Internasional yang jatuh pada tanggal 1 Mei nanti, puluhan ribu aparat polisi dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) diturunkan.
Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Fadjar Panjaitan mengatakan, biasanya perayaan May Day atau Hari Buruh Internasional di Jakarta sering dilakukan di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur. Untuk itu, 530 personel Satpol PP akan disiagakan.
"Permintaan buruh, bisa dilakukan dalam forum melalui orasi. Harapannya, buruh yang ada di Jakarta merayakan Hari Buruh ini dengan sukacita," kata Fadjar, di Balaikota, Jakarta, Rabu (25/4/2012).
Polda Metro Jaya menyiapkan 16.167 personel untuk menjaga keamanan saat Hari Buruh Internasional ini, mengingat jumlah massa yang akan turun ke jalan diprediksi mencapai 60.000 orang.
Kepala Biro Operasional Polda Metro Jaya Kombes Agus Budi mengungkapkan, sampai saat ini belum ada dari forum buruh yang mengajukan izin untuk melakukan aksi unjuk rasa. Meski begitu, pihaknya tetap akan siaga menjaga beberapa obyek vital di Ibu Kota, seperti Istana Negara dan Gedung DPR/MPR RI.
"Polda siap mengamankan Hari Buruh Internasional. Nantinya dalam pelaksanaan akan dibantu juga dari TNI dan Pemprov DKI Jakarta," kata Agus.
Umumnya para buruh ini akan berorasi di Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan dilanjutkan melakukan aksi longmarch ke Istana Negara dan kembali ke Gelora Bung Karno. "Titik akhir ada di Gelora Bung Karno karena akan ada hiburan di sana," jelas Agus.
Aksi massa yang diperkirakan akan diikuti oleh puluhan ribu buruh ini tentunya akan mengganggu arus lalu lintas di sekitar lokasi unjuk rasa. Untuk itu, pihaknya akan melakukan sosialisasi mengenai pengalihan arus. "Pengalihan lalin bersifat situasional, tapi kami tetap akan sosialisasikan ke masyarakat. Jadi, masyarakat sudah tahu lebih awal sehingga bisa mengambil jalan alternatif," tandasnya.

Selasa, 24 April 2012

Balada Balapan Liar dan Neotribalisme Modern di Jakarta
ILUSTRASI
JAKARTA - Sudah lewat tengah hari, Senin (23/4/2012), tetapi belum juga ada pelanggan datang ke bengkel khusus modifikasi mesin sepeda motor, di kawasan Koja, Jakarta Utara. Seorang pekerjanya, Eki (22), mengaku, sudah setengah bulan ini bengkel sepi pelanggan sejak serangan gerombolan bersepeda motor dengan pita kuning di Jalan Warakas I, Tanjung Priok, 13 April lalu.

Terlebih lagi setelah ditengarai serangan itu sebagai aksi balasan atas tewasnya Kelasi Satu Arifin Siri akibat dikeroyok di arena balapan liar, Kemayoran. Sasaran gerombolan itu remaja pesepeda motor.

”Sebelum ada penyerangan, setiap hari bengkel kami selalu ramai,” kata Eki.

Bengkel sepeda motor tempat Eki bekerja hanya berukuran 1,5 meter x 2 meter. Bengkel-bengkel khusus modifikasi mesin sepeda motor yang tersebar di kawasan Koja ini melayani modifikasi mesin untuk kepentingan balapan sepeda motor. Sebagian besar pemiliknya pun mantan pebalap motor, termasuk pemilik bengkel tempat Eki bekerja.

”Tapi kami hanya terima motor balapan resmi, tidak terima yang balapan liar,” ujar Eki membela diri.

Kalau sekadar nonton balapan liar di Kemayoran, Eki mengakui kerap dilakukan. Itu pun hanya untuk memperkaya pengetahuan memodifikasi mesin sepeda motor.

Eki mengaku, akibat aksi gerombolan motor berpita kuning itu, selain pelanggannya hilang, dia juga resah karena takut menjadi sasaran gerombolan itu.

Neotribalisme modern

Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B Prasodjo, menilai, perilaku kekerasan geng motor sangat primitif. Dia mengistilahkan perilaku mereka sebagai neotribalisme modern.

”Ikatan yang mereka bangun sangat emosional dengan solidaritas mekanis. Jika satu teman mereka diganggu, benar atau salah, mereka akan membelanya,” kata Imam.

Fenomena ini terjadi karena pembangunan kota yang tidak menyediakan ruang publik memadai. Seharusnya ruang publik tersebut dapat dipakai sebagai tempat penyaluran aktivitas mereka. Karena tidak ada, warga kota mencari ruang penyaluran, seperti yang dilakukan komunitas pesepeda motor.

Aktivitas komunitas ini dapat mengarah ke hal positif ataupun negatif. Namun, menurut Imam, banyak yang tidak memiliki visi aktivitas positif, seperti yang dilakukan geng motor.

Komunitas geng motor, menurut sejarawan Universitas Indonesia JJ Rizal, sudah ada di Jakarta sejak 1930-an. Gerakannya bergerombol dan mengumbar deru mesin motor yang terdengar meneror.

Untuk pertama kali gerombolan itu muncul di Semarang, Jawa Tengah, tahun 1908. Pemerintah Hindia Belanda memanfaatkan gerombolan ini untuk mengindentifikasi wilayah guna pembuatan peta.

Pada zaman Gubernur DKI Ali Sadikin, gerombolan sepeda motor juga diberikan tempat untuk balapan di Ancol. Balapan liar di Jakarta pun bisa berkurang. Hanya saja, saat itu balapan liar tetap terjadi di kawasan Monas, tetapi didominasi anak-anak aparat polisi dan TNI.

Dalam konteks saat ini, kata Rizal, balapan liar sepeda motor juga dipicu semakin mudahnya memperoleh kredit sepeda motor. Pada masa lalu, hanya kalangan menengah yang terlibat.

”Untuk mengatasinya, perlu didayagunakan dan diberikan arena agar tidak liar dan meresahkan,” jelas Rizal.